Selasa, 09 Juni 2026

From Overthinking to Top 500 Google Student Ambassador - Kisah Perjalananku Membawa Dampak di Kampus hingga Membangun Speakify

Halo semuanya, selamat datang di Zia’s Journal! Melalui tulisan pertamaku ini, aku ingin membagikan sebuah perjalanan tentang bagaimana keberanian kecil bisa membawa kita ke tempat-tempat yang tak pernah kita duga sebelumnya.

Melawan Keraguan di Garis Start

Aku Kezia Situmorang, seorang mahasiswi Program Studi Sistem Informasi di Universitas Pamulang yang saat ini menjalani kuliah sambil bekerja dengan jadwal yang cukup padat. 


Ketika pertama kali mendengar tentang program Google Student Ambassador (GSA) 2026, jujur saja aku langsung kepikiran, “Masa iya aku bisa lolos?”

Aku melihat data tahun sebelumnya dan sempat merasa minder karena program ini dikenal sangat kompetitif. Angka-angka tersebut membuatku overthinking (OVT) cukup parah.

Sempat terlintas di pikiranku bahwa program bergengsi seperti GSA mungkin hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang memiliki banyak waktu luang untuk belajar dan berkembang.

Namun di tengah semua keraguan itu, muncul satu kesadaran sederhana: kalau aku tidak mencoba melawan rasa takut ini, aku tidak akan pernah bergerak dari zona nyaman. 

Sebagai seorang working student yang setiap hari harus pintar-pintar membagi fokus antara dunia kerja dan tuntutan akademis di Unpam, rasanya mimpi ini terlalu muluk. Namun di tengah semua keraguan itu, muncul satu kesadaran sederhana: kalau aku tidak mencoba melawan rasa takut ini, aku tidak akan pernah bergerak dari zona nyaman.

Aku tidak ingin ilmuku berhenti di situ-situ saja. Berangkat dari rasa penasaran yang besar terhadap dunia AI dan bagaimana teknologi ini bekerja, akhirnya aku membulatkan tekad dan memberanikan diri untuk mendaftar tanpa berekspektasi terlalu tinggi.

Dan hasilnya? Puji Tuhan, keajaiban itu datang! Aku berhasil lolos dan bangga bisa menjadi bagian dari 2.000 mahasiswa terpilih Google Student Ambassador 2026 se-Indonesia di antara 81.000 pendaftar yang ikut berkompetisi.

 Pengumuman hari itu langsung meruntuhkan semua tembok overthinking yang sempat menahanku di garis start.


Tantangan Baru dan Hadiah yang Membakar Semangat

Setelah resmi menyandang gelar GSA, perjuangan yang sesungguhnya justru baru dimulai. Kami ditantang untuk membuat konten edukasi setiap minggunya mengenai ekosistem Google AI. 

Di titik ini, tantangan baru kembali muncul: aku sama sekali tidak jago mengedit video. Namun, karena komitmen sudah dibuat, aku memilih untuk tetap berjalan sambil belajar. 

Sedikit demi sedikit, aku mulai memahami cara kerja tools editing video secara otodidak. Apakah prosesnya melelahkan? Sangat.

Tetapi semua rasa lelah itu terasa terbayar ketika Welcome Kit dari Google tiba di rumah pada bulan pertama program berlangsung.

Paketnya benar-benar spesial, lengkap dengan greeting card yang seolah mengingatkanku kembali bahwa aku telah berhasil melewati proses yang panjang untuk bisa berada di titik ini.  Dari situ, aku sadar bahwa kesempatan emas ini tidak boleh disia-siakan.


Memasuki bulan kedua, aku mulai lebih serius mengembangkan diri. Aku menyelesaikan berbagai kelas software development di Dicoding yang difasilitasi oleh tim GSA untuk memperkuat pondasi teknisku.

Tidak hanya itu, aku juga berhasil borong tiga sertifikasi sekaligus dari Google for Education setelah mengikuti workshop intensif yang diadakan selama program berlangsung. Ketiga sertifikat tersebut mencakup kategori Student, Faculty, hingga Educator. Pencapaian ini benar-benar memperluas pemahamanku tentang bagaimana ekosistem digital Google bisa dioptimalkan untuk dunia pendidikan.


Menghadirkan Dampak Nyata di Kampus Unpam

Berbekal ilmu yang didapatkan, aku mulai memberanikan diri mengadakan event. Pada dua event pertama, aku memilih topik yang sangat dekat dengan kebutuhan mahasiswa akhir: NotebookLM dan Deep Research.

Di tengah masa-masa akhir semester yang dipenuhi pencarian jurnal, sitasi, penelitian, hingga urusan Kerja Praktik (KP), tools Google AI ini benar-benar membantu.

Aku merasa bangga karena bisa menjembatani teman-teman di Universitas Pamulang untuk mengenal dan memanfaatkan teknologi tersebut agar proses penyusunan tugas akhir mereka menjadi lebih efektif dan terarah.

Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. 

Dua event pertamaku berhasil membawaku masuk ke dalam Top 500 Google Student Ambassador pertama yang sukses mengadakan event tercepat se-Indonesia.

Dari seorang mahasiswi yang awalnya ragu untuk mendaftar, kini bisa berada di titik ini adalah sebuah anugerah dan berkat yang tidak akan pernah aku lupakan.


Keajaiban di Balik 4 Event dan Langkah Menuju Tier Achiever

Saat blog ini ditulis, aku sedang berjuang untuk membawa profil GSA-ku naik ke tingkatan yang lebih tinggi, yaitu Tier Achiever. Hingga saat ini, aku telah berhasil menjalankan total enam event. Empat event di antaranya secara khusus aku dedikasikan untuk mengupas tuntas pemanfaatan Google AI Tools yang berdampak langsung pada produktivitas akademis teman-teman di Universitas Pamulang.

Melalui rangkaian edukasi ini, aku membawakan 4 studi kasus materi yang sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa:

  • Eksplorasi NotebookLM & Deep Research: Solusi cerdas untuk mempermudah riset ilmiah, merangkum dokumen, dan menyusun tugas akhir tanpa pusing mencari referensi.

  • Pemanfaatan AI Mode di Google Search: Mengoptimalkan mesin pencari berbasis AI agar penelusuran jurnal atau data tugas kuliah menjadi berkali-kali lipat lebih cepat dan akurat.

  • Google Canvas & Pembelajaran Terpandu: Memaksimalkan alat bantu visual interaktif Google untuk meningkatkan kreativitas serta kolaborasi pengerjaan proyek kelompok di kampus.

  • Pengenalan Inovasi "Nano Banana": Membagikan wawasan segar mengenai perkembangan teknologi model AI terbaru dari Google untuk memicu diskusi teknologi yang interaktif.

Mempersiapkan materi sebanyak dan sekompleks ini di sela-sela jadwal kuliah sambil bekerja tentu bukan hal yang mudah. Malam sebelum event keempat berlangsung, aku sempat mengalami overthinking yang luar biasa. Aku khawatir materi Google AI yang kubawakan tidak cukup bermanfaat, takut energiku habis di tengah acara, hingga cemas jika peserta yang hadir tidak aktif.

Setelah menyelesaikan PPT malam itu, aku hanya bisa berdoa dan berserah. Goals-ku sederhana: aku ingin materi yang sudah kususun ini bisa memberikan dampak positif dan menjadi solusi nyata bagi kegalauan akademis teman-teman kuliahku.



Dan keesokan harinya, aku benar-benar merasakan bagaimana Tuhan menolongku dari awal melangkah keluar rumah hingga kembali pulang. Dia menuntun pikiran dan perkataanku sehingga seluruh materi dapat tersampaikan dengan lancar dan fokus. 

Lebih dari itu, Dia juga menggerakkan hati audiens untuk menjadi sangat interaktif sepanjang acara berlangsung.

Dukungan pun datang dari tempat-tempat yang tidak pernah aku duga sebelumnya.

Mulai dari teman-teman solid yang dengan sukarela membantu mendokumentasikan acara, kebaikan ibu kantin yang rela mengantarkan konsumsi langsung ke ruang kelas lantai 10 agar aku tidak perlu repot turun-naik tangga, hingga dukungan luar biasa dari pihak internal kampus.

Bahkan, tim Pendidikan dan Kemahasiswaan meminta juga berpesan agar aku langsung menghubungi mereka jika ada event berikutnya karena akan mendapat dukungan penuh.

Melihat bagaimana begitu banyak hal dipermudah dan dikelilingi oleh orang-orang baik, aku sampai terharu di perjalanan pulang.  Sungguh, pengalaman ini membuatku sadar bahwa tidak ada alasan untuk berhenti bersyukur setiap harinya.

Dari Belajar AI hingga Membangun Speakify

Salah satu hal paling berharga dari perjalanan ini adalah bagaimana aku akhirnya memberanikan diri untuk membangun sebuah aplikasi nyata bernama Speakify.

Berawal dari rasa penasaran terhadap ekosistem Google AI, aku mulai mempelajari berbagai teknologi seperti Dart, Flutter, Firebase, hingga implementasi Google Gemini API 3.5 Flash untuk membantu pengembangan aplikasiku.

Speakify sendiri merupakan aplikasi yang berfungsi sebagai media latihan public speaking dan simulasi interview kerja untuk siswa SMK. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat berlatih komunikasi secara lebih interaktif dengan bantuan teknologi AI.

Jujur, aku tidak pernah menyangka bahwa perjalanan yang awalnya dimulai dari rasa takut untuk mendaftar GSA bisa membawaku sampai di titik ini: membangun aplikasi sendiri dan bersiap membawanya ke sidang.

Dari sini aku belajar bahwa keberanian untuk memulai, sekecil apa pun langkahnya, bisa membuka begitu banyak pintu kesempatan yang sebelumnya terasa mustahil.

Penutup: Keberanian untuk Memulai

Terkadang, kesempatan terbesar datang bukan saat kita merasa paling siap, tetapi saat kita berani melangkah meski masih dipenuhi rasa takut.

Dari perjalanan ini, aku belajar bahwa mimpi bukan tentang siapa yang paling hebat, melainkan tentang siapa yang tetap mau mencoba, bertahan, dan terus berkembang hingga akhir.

Menjadi bagian dari perjalanan ini bukan hanya tentang gelar atau pencapaian, tetapi tentang bagaimana kita bisa tumbuh, memberi dampak, dan membawa perubahan kecil bagi sekitar. Karena pada akhirnya, inspirasi terbaik lahir dari keberanian untuk memulai. 💫

Artikel ini merupakan studi kasus penggunaan Google AI dalam mendukung pembelajaran dan pengembangan teknologi di lingkungan kampus Universitas Pamulang.

Perjalanan ini belum selesai — nantikan cerita seru lainnya dari blog ini!